Natalan Bukan Milik Yesus, tapi Hari Ulang Tahun Kelahiran Dewa Kafir

20 12 2010

Bagi umat Kristen, Natal 25 Desember adalah hari besar yang dirayakan dengan sepenuh suka cita dan kemeriahan. Hari ini diyakini sebagai peristiwa kelahiran Yesus Kristus ke dunia (Dies Natalis of Jesus Christ). Peringatan ini menjadi penting, karena mereka meyakini Yesus sebagai tuhan dan juru selamat. Dengan kata lain, perayaan Natal bagi umat kristiani adalah memperingati hari ulang tahun kelahiran tuhan.

Mengapa mereka merayakan hari ulang tahun kelahiran Yesus tanggal 25 Desember? Apakah Yesus benar-benar lahir tanggal 25 Desember?

Sebenarnya, semua teologi Kristen sepakat bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Meski demikian, para teologi berselisih pendapat mengenai tanggal lahir Yesus.

1. Yesus lahir tanggal 14 Maret SM?

Ralph O. Muncaster, pendeta gereja Saddleback dalam bukunya ‘What Really Happe­ned Charistmas Morning’ menolak pendapat bahwa Yesus lahir pada tahun 1 Masehi dengan merujuk kepada pendapat para ahli lainnya. Menurut Josephus (sejarawan Yahudi), Yesus lahir pada tanggal 14 Maret tahun 4 Sebelum Masehi. Berdasarkan observasi astro­no­­­mis Johannes Kepler, Yesus lahir tahun 7 Sebelum Masehi. Sedangkan Tertulian, Irenaeus, Eusebius (bapak gereja) berpendapat bahwa Yesus lahir pada tahun 2 Sebelum Masehi.

2. Yesus Lahir Bulan April atau November?

Dr. J.L. Ch. Abineno menjelaskan bahwa Yesus mustahil lahir 25 Desember. Menurutnya, Yesus lahir pada bulan Maret, April atau November.

“Gereja-gereja merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Kebiasaan ini baru dimulai dalam abad ke-4. Sebelum itu Gereja tidak mengenal perayaan Natal. Terutama karena gereja tidak tahu dengan pasti kapan –pada hari dan tahun keberapa– Yesus dilahirkan. Kitab-kitab Injil tidak memuat data-data tentang hal itu. Dalam Lukas pasal 2 dikatakan bahwa pada waktu Yesus dilahirkan, gembala-gembala sedang berada di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (ayat 8). Itu berarti, bahwa Yesus dilahirkan antara bulan Maret atau April dan bulan November” (Buku Katekisasi Perjanjian Baru, hal. 14).

3. Yesus Lahir Bulan September?

Pendeta Benyamin Obadyah, alumnus Jerusalem Center, Yerusalem, mengutip pendapat R.A. Honorof dalam bukunya The Return of the Messiah (1997), menyatakan bahwa Yesus lahir pada bulan September. Benyamin menulis: “Meskipun menurut Alkitab Yesus dikandung Maria dari karunia Allah (Lukas 1:35), tapi ia dikandung secara normal selama 40 minggu atau 9,5 bulan. Ini berarti, Yesus dilahirkan pada akhir bulan September atau awal Oktober dan saat itulah orang Yahudi merayakan Hari Raya Tabernakel… Hari raya ini jatuh setiap tanggal 15 bulan Tishri menurut kalendar Yahudi. Menurut kalendar internasional (Gregorian), tahun 1999 tanggal 15 Tishri bertepatan dengan tanggal 25 September. Jadi, umat Kristen yang memperingati Natal 25 Desember terlambat selama tiga bulan.”

4. Yesus Lahir Bulan Januari?

Ephiphanius dan Gereja Orthodox Timur memperingati Natal tanggal 6 Januari, lalu Gereja Katolik Ortodoks memperingati Natal tanggal 7 Januari, sedangkan Gereja Armenian memperingati Natal tanggal19 Januari.

Dari berbagai versi tanggal Natalan tersebut, tak satupun yang bisa dipercaya. Tabloid Victorius edisi Natal pernah mengungkapkan keheranannya tentang Natal yang misterius: “Entah kapan dan siapa tokoh pencetus hari Natal, hingga sekarang masih dicermati. Dan apa benar tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Yesus Kristus? Hal ini masih misterius”.

Karena kesimpangsiuran tanggal kelahiran Yesus itulah, seorang muallaf Wencelclaus Insan Mokoginta berani membuat sayembara terbuka berhadiah mobil BMW. “Jika ada yang bisa menunjukkan dalil dalam Alkitab bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember dan perintah untuk merayakannya, kami sediakan hadiah mobil BMW dan uang tunai 10 juta rupiah,” tulis Wencelclaus dalam buku Mustahil Kristen Bisa Menjawab.

Mengapa Natalan tanggal 25 Desember?

Gereja-gereja Barat merayakan Natal tiap tanggal 25 Desember karena mendapat pengaruh dari Roma. Setelah melalui perjalanan yang panjang, akhirnya sebagian besar gereja di dunia mengikuti tradisi Roma.

Mengapa 25 Desember? Latar belakang perayaan Natal berasal dari kebudayaan bangsa Romawi. Tanggal 25 Desember dipilih sebagai hari Natal Yesus semata-mata mengadopsi tradisi pagan, untuk menyesuaikan dengan hari perayaan penyembahan berhala yang populer pada saat itu.

Sebab 25 Desember adalah Natal dua dewa terkemuka pada masa purba, yaitu perayaan kelahiran Dewa Matahari bangsa Roma yang dikenal dengan perayaan Solis Invictus (matahari yang tak terkalahkan) dan Dewa Mithras (dewa matahari kebenaran dan kebijakan). Perayaan ini sangat berpengaruh dalam kebudayaan dan keagamaan di kekaisaran Romawi, sejak abad ke-10 hingga 7 sebelum Yesus lahir (Sebelum Masehi).

Perayaan Roman Saturnalia, suatu perayaan untuk menghormati Saturnus, Dewa Pertanian dan Pembaruan Kuasa Matahari, juga berlangsung pada tanggal 25 Desember.

Sejak abad ke-4 Masehi, Gereja Katolik mencaplok 25 Desember sebagai Natal Yesus Kristus untuk menggeser pesta kafir tentang perayaan kelahiran dewa, diganti sebagai natal Yesus sang pembawa terang. Dengan inkulturasi seperti ini, mereka berharap agar para paganis dengan mudah beralih menjadi penganut Kristen. Makanya, beberapa kebiasaan yang terdapat pada perayaan Natal, diperkirakan berakar dari perayaan penyembahan berhala-berhala ini.

Kaisar Constantin Agung berusaha mempersatukan berbagai golongan dan agama guna keseimbangan politis dan agamawi di kekaisarannya. Maka diperkenalkanlah tadisi Natal pertama kali di Roma tanggal 25 Desember 336 yang menggabungkan tradisi penyembahan matahari dalam Mithraisme dengan tradisi perayaan kelahiran Yesus dalam Kristen. Sejak saat itulah 25 Desember diadopsi perlahan-lahan untuk merayakan Natal kelahiran Yesus. Otomatis, latar belakang Mithraisme pada perayaan Sol Invictus masih melekat. Misalnya, matahari yang disembah dalam perayaan Sol Invictus, diganti dengan simbol bahwa Yesus adalah Sang Matahari Kebenaran Penerangi Dunia.

Untuk menampik tudingan perayaan tradisi kafir, biasanya para penginjil berkilah, “Kalau kini Natal dirayakan sepenuhnya untuk kepentingan rohani dan setiap orang Kristen dapat bertumbuh dewasa karenanya, maka kaitannya dengan sejarah agama purba itu tentu saja bisa diabaikan” (Majalah Kristen Rajawali edisi Desember Th. XII no. 12 hlm. 16).

Alasan ini sudah tidak relevan. Jauh-jauh hari Herbert W Armstrong (1892-1986), Pastur Worldwide Church of God yang berkedudukan di Amerika Serikat,  telah membantahnya dengan mengutip Catholic Encyclopedia: “Sinners alone, not saints, celebrate their birthday.” Hanya orang kafir, bukan orang-orang suci, yang merayakan hari ulang tahun mereka!!


Aksi

Information

4 responses

6 01 2011
aven

makasih Sobat untuk tulisannya. Saya seorang Katolik. Saya kerja di lingkungan Kementerian Agama RI. Dengan ini saya merilis pernyataan yang juga pasti akan diamini oleh semua kaum Nasrani di dunia untuk membenarkaan bahwa tanggal 25 Desember memang bukan tanggal yang pasti sebagai hari lahirnya Yesus Kristus. Namun, hemat saya pribadi, benar tidaknya tanggal itu, tidak menjadi soal. Yang jelas, Yesus toh benar2 pernah lahir sebagai makhluk sejarah. Nah, kalau kita manusia biasa saja bisa merayakan hari lahirnya orang tua atau diri kita sendiri, kenapa kaum nasrani tidak boleh merayakan hari lahir Guru, dan Juru Selamatnya? Sekali lagi, tidak penting kapanpun tanggal lahirnya, yang jelas kelahiran-Nya patut dirayakan oleh orang-orang terdekat-Nya. Kita begitu mengidolakan Soekarno, maka kita pun merayakan kelahirannya setiap 1 Juni bertepatan dg hari lahirnya Pancasila. Bedanya hanyalah, Soekarno sedikit beruntung karena kelahirannya terekam dokumen, YK tidak. Tapi bagi kaum Nasrani Indonesia, kedua tokoh ini memiliki pengaruh bagi kehidupan mereka saat ini. Yang satu membawa kemerdekaan dari penjajahan politis, dan yang lainnya yakni Yesus Kristus membawa kemerdekaan dari perhambaan dosa, akar dari segala penjajahan.

Maka, sekali lagi, entah benar 25 Desember atau tidak secara historis lahirnya YK, ga jadi soal. Nah, daripada sibuk cari tanggal yang pasti, kenapa tidak memakai kebiasaan pagan di kekaisaran Roma saja pada waktu hal itu ditetapkan? Kalaupun toh suatu saat nanti tanggal lahir YK bisa ditentukan dengan pasti dan akurat berkat kemajuan IPTEK misalnya, saya pikir kaum Nasrani tetap akan enggan untuk mengalihkan perayaan Natalnya ke tanggal yaang diklaim pasti tersebut. Kennapa? Sekali lagi, kita tidak pentingkan tanggal yang pasti. Kita pentingkan spiritnya. Karunia rohaninya. Jadi, ngapain sibuk mengubah tatanan yang sudah lama berlaku hanya demi alasan kebenaran historis jika hal yang lebih penting justru sudah dicapai? Hal yang lebih penting, lebih inti dan bermakna ialah peristiwa Natal membangkitkan inspirasi bagi umat Kristiani utk bisa rendah hati seperti Allah yang merelakan diri jadi manusia dalam diri YK, membawa damai dan terang ke mana pun mereka pergi yakni damai dan terang yang datangnya dari Allah sendiri, berbela rasa dengan sesama yang menderita dan tertindas.

Ya, saya juga mengiyakan bahwa justru kebanyakan pelaku penindasan dan penjajahan adalah penganut kristiani. Hal itu patut menjadi duka bersama, bukan duka kami yang kristen saja. Kenapa? Seringkali, demi ambisi pribadi, hasrat terhadap kekayan duniawi, dll., membuat seseorang nekad membutakan suara hati. Jadi, ini ternyata bersumber pada diri sendiri, bukan pada ajaran agamanya. Ajaran agama boleh apik sebaagus-bagusnya jika yang bersangkutan tidak mau menerapkannya secara konsekuen dalam kehidupaan sehari-hari ya agama baginya tidak lebih dari status sosial saja dong. maka, mari kita berduka bersama bagi mereka yang mengaku beragama, agama apapun, tetapi suka melakukan aksi teror, penindasaan, diskriminasi, penajajahaan, perbudakan, dll. dalam setiap bentuk manifestasinya.

Singkat kata saudaraku, Natal bagi kami itu bisa kapan saja. Hanya saja, demi alasan biar efisien dan efektif, kami ga keberatan kog jika merayakan Natal pada 25 Desember, hari di mana para penganut paganisme di zaman Romawi kuno sebagai hari lahir dewa mereka. Lalu, dengan alasan itu, orang Kristen pantas disebut kafir seperti banyak kali saya dengar selama ini? Ah, itu urusan Tuhan yang Maha Kuasa utk menentukan Kristen itu kafir atau malah agama yang direstui oleh Allah? Kita manusia tidak punya kemampuan utk bisa menggantikan posisi Allah dalam menentukan seseorang atau sekelompok orang itu kafirun atau bukan. Siapakah manusia sehingga dia bisa menghakimi seperti Allah? So, mendingan kita sibuk menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan sesuai tuntunan-Nya di Kitab-kitab Suci agama kita masing-masing deh, ketimbang sibuk menghakimi sesama yang belum tentu salah di mata Tuhan penciptanya. Wassalam…..sobat.

6 01 2011
Mr.Smile

Bukankah keyakinan tersebut muncul setelah ada kebenaran yang nampak nyata?

Jika sebuah keyakinan tidak dilandasi dari sebuah kebenaran lalu untuk apa tetap berkeyakinan kepada hal tersebut?

Disatu sisi merayakan tanggal tersebut adalah hari kelahiran yesus namun pada sisi lain mengakui bahwa sebenarnya tanggal tersebut bukanlah hari kelahiran yesus? menurut saya itu sesuatu yang aneh.

Jika diibaratkan, merayakan hari ulang tahun seseorang pada tanggal yang salah dan hal tersebut dilakukan berulang-ulang. Bukankah itu sebuah kesalahan dan kesalahan itu kemudian dibuat seolah merupakan sebuah kebenaran dengan cara selalu merayakan natal pada tanggal tersebut.

Maaf tulisan diatas hanya sebuah bentuk dakwah dan memberikan kebenaran.

2 09 2014
Ente Bahlul

3 09 2014
Robby

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: